Konflik Singapura yang Ikut Menyeret Dua Menantu

Typography

SINGAPURA, RadarPena.com - Yang bertengkar memang anak-anak kandung Lee Kuan Yew. Namun, perseteruan itu akhirnya juga menyeret dua menantu bapak bangsa Singapura tersebut: Ho Ching dan Lim Suet Fern.   Ho Ching merupakan istri anak sulung sekaligus Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong. Adapun Lim Suet Fern adalah istri si anak bungsu Lee Hsien Yang. 

Oleh kedua iparnya, Lee Wei Ling dan Lee Hsien Yang, Ho Ching dituding memanfaatkan warisan ayah mereka untuk kepentingan politik. Yang dimaksud Wei Ling dan Hsien Yang adalah rumah peninggalan ayah mereka di 38 Oxley Road. 

 

Mereka menuding PM Lee Hsien Loong dan Ho Ching ingin menguasai dan tinggal di rumah tersebut. Selain itu, mereka menganggap tindak tanduk Ho Ching sebagai istri PM sangat kontras dengan mendiang ibu mereka, Kwa Geok Choo.  ”Pengaruhnya sangat luas dan jauh melampaui lingkup pekerjaannya.” Demikian bunyi pernyataan bersama Wei Ling dan Hsien Yang tentang CEO Temasek Holdings itu.

 

Wei Ling dan Hsien Yang menyebut ibu mereka selalu menghindari sorotan media. Dia memilih mendukung suami dari belakang dan memberikan saran secara pribadi. Tudingan serupa datang dari PM Lee Hsien Loong kepada sang ipar, Lim Suet Fern. Dia yang berprofesi pengacara dan turut mendirikan salah satu firma hukum terkemuka di Singapura itu dianggap berperan dalam perubahan di surat wasiat terakhir Lee Kuan Yew. 

 

Persisnya, Lim Suet Fern, putri ekonom terkenal Lim Chong Yah, akhirnya menyediakan dua rekannya, Elizabeth Kong dan Bernard Lui, dari firma Stamford Law Corporation untuk menjadi saksi penandatanganan wasiat terakhir. Tindakan Hsien Yang dan istrinya yang terburu-buru menyuruh ayahnya tanda tangan itulah yang membuat PM Lee Hsien Loong curiga. Yaitu, isi surat wasiat terakhir tersebut tidak sesuai dengan keinginan sang ayah.

 

Perseteruan keluarga Lee Kuan Yew itu kini akhirnya menjadi konsumsi publik internasional. Berbagai media lokal maupun internasional mengulas masalah tersebut. Berita tentang keluarga orang nomer satu di Singapura itu menjadi headline berbagai media besar dunia. Sebut saja The New York Times, Agence France-Presse, Financial Times, BBC, The Star, Channel News Asia, dan The Strait Times. 

 

Selain itu, konflik tersebut membelah warga Singapura. Setidaknya di media sosial. Antara yang pro PM Lee dan yang mendukung Wei Ling dan Hsien Yang.  ”Masalah keluarga seharusnya tidak dicampur dengan urusan negara. Apa yang bakal dipikirkan negara lain jika melihat ini?” ujar salah seorang pengguna Facebook Li Zhong Ng yang mendukung PM Lee.

 

Beberapa netizen lain justru salut dengan keputusan Wei Ling dan Hsien Yang. Sebab, mereka mau jujur dan terbuka terkait integritas dan karakter sosok pria yang kini memimpin Singapura. Namun, ada pula yang merasa kecewa dengan keputusan Hsien Yang untuk meninggalkan Singapura. Langkah itu dianggap bakal memberikan contoh buruk kepada warga Singapura yang lain. 

 

Netizen Simon Tan dan Terence Foong memberikan saran untuk tiga bersaudara tersebut. Yaitu, rumah itu tetap dihancurkan, tapi sebelumnya dibuatkan peta tiga dimensi. Dengan begitu, penduduk Singapura tetap bisa mengunjungi rumah bersejarah tempat tinggal Lee Kuan Yew tersebut lewat virtual reality. ”Pandangan pemerintah untuk mempertahankan rumah itu bagi generasi mendatang tidaklah salah, tapi menentang wasiat mendiang Lee Kuan Yew bakal sulit,” tegas Tan. (TheStraitTimes/TheMalaysianInsight/sha/c10/ttg/JPG)