Diduga Terima Rp 150 juta, Asisten Kejati Bengkulu Berinisial E Dbiidik Kejagung 

Typography

JAKARTA, RadarPena.com - Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung telah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) terkait kasus dugaan penerimaan grarifikasi alias suap oleh oknum jaksa dalam penaganan perkara dugaan korupsi di Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu. 

Lalu siapa oknum jaksa tersebut? "Salah satu jaksa berinisial E. Salah satu assisten di Kejati Bengkulu," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus)  Arminsyah di Kejakaaan Agung, Jakarta,  Kamis (12/10).

Dia menjelaskan oknum jaksa E diduga menerima gratifikasi atau suap senilai Rp 150 juta terkait penangan perkara di Bengkulu. Namun,  Arminsyah belum mengetahui persis aliran uang itu berasal darimana,  karena penyidik baru menerbitkan sprindik umum dan saat ini tengah didalami oleh tim penyidik. "Yang pasti,  dugaan gratifikasi ini berbeda dengan kasus yang ditangani oleh KPK. Jadi,  uangnya beda dengan yang disita oleh KPK," jelasnya.

Diketahui, dalam kasus OTT KPK di Bengkulu,  terdapat sejumlah jaksa dan birokrat ditangkap.  Diantaranya Parlin Purba,  Kasi Intelijen pada Kejari Bengkulu sebagai tersangka.  Dia diduga menerima suap sekitar Rp160 juta atas pelaksanaan proyek irigasi, tahun anggaran 2015 - 2016, di BWSS VII. 

Parlin ditangkap saat bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Irigrasi Amin Anwari dan Direktur PT Mukomuko Putra Selatan Manjuto, Murni Suhardi bersama uang Rp10 juta. Uang suap itu diduga sebagai imbalan agar perkata dugaan korupsi di BWSS VII tidak dilanjutkan. Ketiga orang ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini dalam proses hukum di peradilan.(alan jhon)