Korupsi Tangki Pendam Fiktif, 4 Bekas Petinggi PT Dok Jadi Tersangka 

Typography

JAKARTA, RadarPena.com -  Empat mantan  petinggi  di PT Dok dan Perkapalan Surabaya (BUMN) ditetapkan tersangka kasus dugaan korupsi pembuatan tangki pendam fiktif di Muara Sabak, Jambi tahun 2010 dengan nilai proyek nilai sebesar Rp179.928.141.879. Empat tersangka tersebut yakni inisial MFA selaku mantan dirut utama PT Dok dan Perkapalan Surabaya, inisial MY selaku mantan Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha. Insinyur IWYD mantan direktur produksi dan NST selaku mantan Direktur Keuangan.

"Sudah kita tetapkan empat orang tersangka belum lama ini dalam korupsi tangki pendam fiktif," kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Warih Sadono di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (12/10).

Dia menjelaskan kasus bermula saat PT Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan kontrak dengan PT Berdikari Petro untuk melakukan pembangunan tangki pendam di Muara Sabak, Jambi, namun dalam pelaksanaannya, PT Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan subkontrak kepada AE Marine, Pte. Ltd di Singapura dan selanjutnya merekayasa progress fisik (bobot fiktif) pembangunan tangki pendam.

Kemudian PT Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan transfer sebesar USD 3.963.725 kepada AE Marine. Pte, Ltd namun, dalam pelaksanaannya tidak ada pekerjaannya. Selanjutnya dana tersebut digunakan untuk kekurangan pembayaran pembuatan dua kapal milik Pertamina kepada Zhang Hong, Pte. Ltd yang telah mempunyai anggaran tersendiri.

Kontrak antara PT DPS dengan Zhang Hong. Pte, Ltd tidak sesuai dengan ketentuan pengadaan barang/jasa sehingga merugikan PT Dok dan Perkapalan Surabaya. "Jadi ini pekerjaan fiktif, engga ada yang dikerjakan," jelasnya.

Sehingga, kata Warih, atas pekeejaan fiktif tersebut negara dirugikan puluhan miliar."Ini kerjaan tidak ada, tapi uang sudah dicairkan, kerugian hampir sekitar USD 4 juta USD," tutupnya.(alan jhon)